cerita sex ngentot dengan tante pacarku | selingkuh sama tante montok

  • KUMPULAN NO PIN BB TANTE JABLAY

  • VIDEO PANAS BUNGA CITRA LESTARI TERBARU

  • Bookmark and Share
    cerita sex ngentot dengan tante pacarku - selingkuh sama tante montok, Kayaknya nikmat banget tuhh,,,, sudah dapat memek pacar sendiri eeehhhh.... malah dapat bonus memek tantenya. Siapa yang berani menolak. Pacar memeknya masih perawan dan tante yang memeknya masih sempit,,,,, wow,,,,

    Hati-hati bagi yang punya pacar ganteng dan tante yang masih muda cantik dan bahenol. Jangan kasih kesempatan yahhhh.... bisa bahaya. Seperti kucing dikasih ikan asin,,,, langsung caplok dah,,,,, Habis ngentot memek pacar trus ngentot nikmat memek tante sendiri.................

    Nggak percaya, nih cerita kucing garong yang suka ikan memek asin,,,,

    Kami berjalan berdampingan. Kusentuh tangannya dengan jariku. Ia menoleh dan tersenyum kecil. Tidak berapa lama kami sudah berada di dalam kamar hotel. Aku membuka sepatu dan kemejaku lalu membaringkan badan ke atas ranjang yang empuk. Lumayan, dari tadi duduk di bangku semen yang keras. Rasanya ada kenikmatan tersendiri bisa memenangkan situasi ini. Yanti ikut membaringkan tubuhnya disampingku.

    “Kamu tadi kok begitu gigih ngajakin aku tidur di sini sih?” tanyanya memecah kesunyian.
    “Namanya juga usaha, kali-kali aja berhasil. Ternyata kan..”.
    “Iya sih, aku tadinya ragu-ragu. Tapi melihat kegigihanmu aku mulai berpikir lain. Sudah tiga tahun aku tidak pernah melakukannya lagi. Selama ini tidak ada yang tertarik padaku, maklum sudah tua dan kendor. Kalaupun ada yang naksir, paling-paling duda yang sudah di atas lima puluhan. Kamu sendiri masih muda kenapa begitu gigih merayuku?”
    “Jujur saja, aku belum pernah naik kuda Sumbawa dan minum susu kuda liar yang fresh, dan sekarang aku bisa merasakannya”, kataku menggodanya.
    “Hussh, .. Kebanyakan berkhayal dan termakan iklan kamu ini”, katanya sambil tertawa.
    “Aku mandi dulu, badanku terasa lengket”, katanya kemudian.

    Ia membuka pakaiannya. Meskipun dia membuka pakaiannya di dalam kamar sehingga aku bisa melihatnya secara utuh seluruh tubuhnya, namun karena bentuk tubuhnya yang sudah kendor dan jika dinilai secara obyektif sebenarnya tidak menarik, maka adik kecilku belum bereaksi. Pantat dan payudaranya sudah turun, tapi perutnya lumayan, masih datar.

    Kembali fantasi tentang kuda Sumba dan susu kuda liar melintas. Adrenalinku mulai naik. Kususul dia ke kamar mandi setelah aku membuka celana dan celana dalamku yang kulemparkan saja ke lantai kamar. Kubuka pintu kamar mandi, Yanti terkejut. Ia sedang menikmati guyuran shower dan tangannya sedang menyabuni selangkangannya.

    Kupeluk dia dari samping dan kuciumi belakang telinganya. Kuremas payudaranya. Kurapatkan selangkanganku di pinggangnya. Ia menggelinjang. Di bawah siraman shower kami saling berpelukan dan berciuman. Ciumannya tidak dalam. Kucoba untuk melumat bibirnya. Ia hanya membalas saja tanpa berusaha untuk mengambil inisiatif lainnya. Kujilat dan kulumat puting payudaranya. Meskipun payudaranya sudah kendor, namun putingnya yang besar masih keras dan kenyal. Yanti selesai mandi dan kubiarkan ia keluar dari kamar mandi duluan. Aku masih menyabuni tubuhku dan mulai mengocok penisku. Tentu saja sekedar pemanasan. Alangkah konyolnya jika ada sasaran tembak namun peluru ditembakkan sembarangan percuma.

    Setelah selesai mandi, aku keluar kamar mandi dengan hanya dibalut handuk dan ternyata Yanti sedang tiduran terlentang. Sebelah kakinya ditekuk ke atas dan lututnya dilipat. Saya menikmati pemandangan itu dan kejantananku mulai mengeras. Kuterkam tubuhnya dan kuciumi telinga, leher dan payudaranya. Handuk di tubuhku terlepas dengan sendirinya. Yanti memegang penisku sambil memelukku, nafasnya menderu.

    “Anto.. Tapi tolong puasin saya malam ini, saya sudah lama tidak merasakan nikmatnya kepuasan bercinta.. Ohh..”.

    Kulumat bibirnya dengan rakus, tangannya bergerak ke bawah dan sebentar kemudian sibuk mengocok penisku. Aku melepas lumatanku pada bibirnya. Kedua tanganku mengusap payudaranya dengan gerakan melingkar di bawahnya menuju ke arah puting tanpa menyentuh putingnya. Kemudian gantian punggungnya kuusap dengan usapan ringan sampai dia merasa kegelian.

    “Ohh.. Anto.. Nikmat To..!!”

    Yanti menancapkan mulutnya di dadaku dengan keras kemudian mengisap dan mengigitnya. Ketika mulutnya dilepas tampak bekas kemerahan daerah gigitannya tadi. Lidahnya kemudian mencari putingku dan menjilatinya.

    “Ooohh.. Yanti.., Eeeihh.. Nikmat..”.

    Kedua tangannya meremas remas pantatku. Yanti mengangkangkan kakinya sehingga kaki dan pinggangku bisa dijepitnya. Yanti menatapku tajam, sebelah tangannya menggantung dileherku, nafasnya memburu. Ia memejamkan matanya, kucium kening, pipi dan kujilati daun telinganya.

    “Yanti aku akan memuaskanmu terlebih dahulu baru nanti kuambil bagianku..”.
    “Terimakasih To.. Ohh..”.

    Kulumat payudaranya dan tangan kananku meremas remas panyudaranya yang lain, sedangkan tangan kiriku menyusup di antara kedua pahanya, memainkan vaginanya.

    “Ouuoh.. To.. Nikmatnya.. Anto..”.,

    Tangannya memainkan penisku dan buah pantatku.

    Oh.. Aku tidak tahan lagi.., Anto sayy.. Oh.. Aku tidak kuat. Ssshh..”.

    Kakinya yang terangkat dan mengangkang membuatku semakin bernafsu. Yanti mengangkat pantatnya. Kupegangi kedua belah pahanya dan semakin kubuka kakinya lebar-lebar. Terlihatlah belahan vaginanya agak kehitaman dengan bagian dalam yang kemerahan, dihiasi rambut tipis.

    “Aahh..”, Yanti melenguh panjang, badannya goyang kekanan kekiri, kuberikan rangsangan tambahan. Kujilati pusar dan perutnya, lalu ke paha dan betisnya. Kugigit dekat pangkal pahanya sampai memberkas merah.
    “Too.. A n t o.. Kamu.. Oh.., sudah.. Aku enggak tahan..”.

    Ditariknya kepalaku ke atas dan didekapkan ke dadanya kemudian diraihnya penisku dan diarahkan ke vaginanya yang becek, dan.. Blesshh..

    “Ouuhh.. Ohh..”.

    Kutekan pantatku perlahan dan akhirnya masuklah semua penisku ke dalam vaginanya.

    “Aahh.. To Ayo.. To Berikan aku..”.

    Yanti menaikan pantatnya dan aku menekan lagi pelan-pelan, terus berlangsung beberapa lama, kian lama kian cepat.

    “Aku mau keluar..” Yanti memekik.

    Aku semakin kencang mengocok vaginanya dengan penisku. Dia diam sejenak sambil memegang lenganku.

    “Sudah Yan?”
    “Sebentar lagi.. Ohh..”

    Tiba-tiba digerakannya pantatnya naik turun agak memutar dengan cepat, batangku terasa mau patah.

    “Ah..”. Yanti meremas remas payudaranya dan menjambak rambutnya sendiri dan matanya terpejam. Jepitan kaki di pinggangku menguat. Dinding vaginanya terasa menebal sehingga lubangnya menjadi lebih sempit.

    Ia memelukku dan mengulum bibirku, “An.. To.. Aku.. Hggkk.., Ahh.. Nikmatt..” Yanti bergerak liar.

    Kutekankan penisku dalam-dalam dan kurasakan denyutan di dinding vagina serta dasar rahimnya. Kurebahkan tubuhku ke atas tubuhnya. Ia masih terus menciumiku dengan lembut. Kubiarkan penisku terendam dalam cairan vaginanya.

    “Kamu belum keluar ya..?” Ia mendesah.

    Kami diam sejenak. Kuberikan kesempatan untuknya beristirahat dan mengatur nafasnya. Matanya masih tertutup. Sejenak kurangsang vaginanya dengan gerakan pada otot kemaluanku. Ia mendesah dan membuka matanya. Dikalungkannya kedua tangannya pada leherku.

    “Sayyang.. Kini giliranku..” kataku berbisik. Ia mengangguk dan tersenyum.

    Kugerakkan lagi pantatku naik turun dan memutar. Perlahan-lahan dan semakin lama semakin cepat. Kurasakan vaginanya lebih becek dari semula, namun aku tidak mau menghentikan permainan untuk mengeringkannya. Gesekan kulit penis dengan dinding vaginanya masih terasa nikmat. Gairahnya mulai bangkit lagi. Iapun mengimbangi gerakanku perlahan-lahan. Setelah beberapa saat kemudian gerakannyapun juga semakin cepat. Kuangkat pantatku sampai tinggal kepala penisku saja yang menyentuh bibir vaginanya, dengan gerakan cepat dan bertenaga kuhempaskan lagi ke bawah. Badannya terguncang.

    Kurapatkan pahanya, kemudian kakiku menjepit kedua kakinya. Aku menurunkan tempo permainan sambil beristirahat sejenak. Sesaat kemudian kukembalikan pada tempo semula. Aku hanya menarik turunkan penisku sampai setengahnya saja. Jepitan vaginanya lebih terasa. Kurasakan aliran darah di penisku semakin cepat.

    “.. Yanti.. Aku mau keluar..”.
    “Tunggu.. Kita bareng.. A.. Nnto..”

    Kukangkangkan kakinya kembali. Kedua betisnya kujepit di ketiakku. Dalam posisi demikian maka vaginanya terbuka lebar sekali.

    “Anto..”. Tubuh Yanti menegang.
    “Yanti aku juga.. Mau.. Ohh..”.
    “Ahh.. Nikmatt”.

    Cairan vaginanya bertambah banyak, sementara itu ujung penisku berdenyut denyut. Tubuhnya bergerak seperti kuda Sumbawa yang melonjak-lonjak liar.

    “Yanti.. Oh.. Kukeluarkan.. Dimana..?”
    “Di dalam saja.. Aku sedang dalam masa tidak subur..”

    Dan kemudian.. Crot.. Crot.. Crot.. kutumpahkan spermaku di dalam guanya sampai menetes-netes keluar.

    “Tahan sebentar.. Ahh..”.

    Iapun mendapatkan orgasmenya setelah berusaha sesaat sebelum penisku berhenti menyemprotkan pelurunya. Kutekankan lagi penisku, denyutan pada otot-otot kemaluan kami saling memberikan kenikmatan ekstra. Aku berguling ke samping. Kami berpelukan dengan badan bersimbah keringat.

    “Makasih To.. Yach”, Yanti lagi melumat bibirku.
    Kubalas dengan ganas, tetapi ia melepaskan lumatannya dan berkata “Sudah malam, lain kali pasti akan kuberikan lagi”.
    “Terima kasih kuda Sumbawaku. Terima kasih kasih untuk susu kuda liarku”, kataku.

    Selama beberapa bulan kemudian, setiap dua minggu sekali ia menelponku untuk mengajak berpacu. Sengaja kubiarkan dia yang meminta. Bukannya aku tidak butuh, namun aku berpikir kadang-kadang bisa saja tiba-tiba aku mendapatkan pengalaman bersama wanita lain, sehingga biar Yanti saja yang aktif meminta kupacu. Setiap kali bertemunya, fantasi kuda Sumbawa selalu ada dalam pikiranku.

    Cerita Menarik Lainnya :